
Jakarta, Slaughter Free Indonesia
—
Serangan
Amerika Serikat
dan Israel ke
Iran
menimbulkan spekulasi digunakannya senjata nuklir.
Apalagi AS dan Israel dua negara pemilik senjata pemusnah massal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah di seluruh dunia sepakat bahwa senjata nuklir menimbulkan risiko yang sangat serius bagi umat manusia dan seluruh makhluk hidup di dunia.
Pada Januari 2022, AS, Rusia, Inggris, Prancis, dan China, lima negara yang telah memiliki senjata nuklir paling lama, mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan bahwa “perang nuklir tidak dapat dimenangkan dan tidak boleh terjadi”, seperti dikutip dari laman
www.sgr.org.uk
.
Cukup beralasan, sebab jika ada satu negara yang mulai menggunakannya, kehancuran total bisa terjadi.
Seperti apa?
Laman yang berisi pencegahan terhadap senjata nuklir, www.icanw.org, menuliskan dampaknya.
Sebagai perbandingan, dua senjata nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, tahun 1945 memiliki daya ledak setara dengan sekitar 15 kiloton dinamit dan 20 kiloton dinamit secara berturut-turut.
Dalam pandangan ilmuwan nuklir modern saat ini, dua senjata yang menghancurkan tersebut dianggap sebagai “senjata berdaya ledak rendah”. Padahal telah menewaskan lebih dari 100 ribu orang.
Bagaimana sekarang?
Banyak senjata nuklir modern di Rusia dan AS adalah senjata termonuklir dan memiliki daya ledak setara dengan setidaknya 100 kiloton dinamit dan beberapa jauh lebih tinggi. Satu senjata nuklir 100 kiloton yang dijatuhkan di Kota New York dapat menyebabkan sekitar 583.160 korban jiwa.
Efek buruk jangka panjang dari radiasi bom itu juga akan membuat bumi tidak akan sama lagi seperti sedia kala karena kerusakan yang sangat mengerikan.
Betapa dahsyatnya senjata nuklir.
(imf/bac)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Slaughter Free]
Baca lagi: Pelaku Curanmor Pembunuh Polisi Lampung Tewas dalam Baku Tembak
Baca lagi: Tak Main-main, 5 Tanaman Herbal Ini Bisa Bikin Kamu Tetap Awet Muda
Baca lagi: Elon Musk ‘Muter’ 360 Rekam Momen Saat Temani Trump ke Beijing


