Cekcok dengan Afghanistan, Kenapa Pakistan Jadi Mediator AS-Iran?

Jakarta, Slaughter Free Indonesia

Pakistan

tetap dipercaya jadi mediator antara Amerika Serikat dan

Iran

di Islamabad meski negosiasi damai pertengahan April lalu tidak membuahkan hasil.

Pakistan kini sedang berusaha ada putaran kedua “Islamabad Talks” untuk membujuk Iran kembali ke meja perundingan.

“Pakistan telah melakukan upaya tulus untuk meyakinkan kepemimpinan Iran agar berpartisipasi dalam putaran kedua perundingan dan upaya ini terus berlanjut,” kata Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar, Selasa (21/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Media Pakistan,

DAWN

, menulis peran geopolitik Pakistan di tengah perundingan. Manuver diplomatik semakin intensif di balik layar dan dalam konteks inilah nama Pakistan mulai lebih sering muncul dalam diskusi internasional.

Bahkan selama pekan lalu, beberapa publikasi global melaporkan bahwa Islamabad secara aktif menawarkan diri sebagai mediator dalam konfrontasi AS-Israel yang meningkat dengan Iran.

Menurut laporan-laporan ini, kepemimpinan militer dan sipil Pakistan telah melakukan kontak langsung dengan para pejabat senior AS, termasuk Presiden Donald Trump, menyampaikan kesediaan Islamabad untuk memfasilitasi dialog dan mengurangi ketegangan.

Cendekiawan terkemuka yang berbasis di Washington, Vali Nasr, berpendapat bahwa inisiatif diplomatik Pakistan kemungkinan besar tidak akan terjadi secara terpisah dari Arab Saudi.

“Pakistan hanya akan meningkatkan upayanya jika mendapat dukungan dan dorongan dari Arab Saudi. Riyadh kemungkinan besar sangat terlibat,” tulisnya dalam sebuah unggahan di X.

Penilaian Nasr menyoroti dinamika penting. Hubungan militer dan ekonomi Pakistan yang erat dengan Arab Saudi berarti bahwa setiap upaya mediasi yang berarti kemungkinan besar akan mendapat persetujuan diam-diam dari Arab Saudi.

Nilai Pakistan sebagai perantara potensial juga berasal dari akses paralelnya ke Teheran dan Washington, kombinasi langka dalam iklim geopolitik saat ini.

Singkatnya, peran mediasi Pakistan sedang dibahas sekarang karena konflik telah mencapai titik di mana eskalasi militer membawa biaya yang semakin besar, sementara pilihan diplomatik tetap terbatas.

Ketika saluran langsung menyempit, negara-negara dengan hubungan lintas sektoral menjadi relevan. Islamabad tampaknya menyadari momen ini dan memposisikan diri sesuai dengan itu.

Saat pemerintahan Trump berupaya mengakhiri perang dengan Iran, Pakistan muncul sebagai mediator kunci, menyampaikan pesan antara Teheran dan Washington serta menjadi tuan rumah bagi kekuatan regional yang berupaya meredakan konflik.

Paul Staniland, Senior Nonresident Fellow di Council, saat diwawancara oleh laman Global Affairs mengatakan hubungan antara Pakistan, AS dan Iran sebenarnya sudah ada sejak sebelum krisis terbaru ini.

Pakistan telah berupaya menjangkau pemerintahan Trump dan Donald Trump secara pribadi, serta anggota keluarganya, untuk membangun pengaruh di Washington. Di bawah pemerintahan Trump pertama, Pakistan agak terabaikan.

Trump bahkan mencuit hal-hal negatif tentangnya. Tetapi Pakistan telah menunjukkan dirinya lebih bermanfaat di bawah pemerintahan Trump periode kedua. Jadi, ada dasar yang sudah ada sebelumnya untuk kerja sama AS-Pakistan di bawah pemerintahan ini.

Pakistan juga memiliki hubungan yang kuat dengan Iran, yang berbatasan darat dengan negara itu dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Baru-baru ini, Pakistan juga menandatangani pakta pertahanan dengan Arab Saudi yang jelas merupakan bagian dari krisis ini dan memiliki hubungan yang kuat dengan Tiongkok, yang terdampak oleh krisis energi yang muncul.

Dengan demikian, Pakistan mencoba menggunakan berbagai koneksi ini untuk menempatkan dirinya dalam peran mediator dengan cara yang menurut saya menandakan tingkat pengaruh dan kekuatan geopolitik yang lebih besar daripada yang mungkin kita perkirakan beberapa tahun yang lalu.

Bersambung ke halaman berikutnya…

Lalu bagaimana posisi Pakistan yang selalu berseteru dengan negara tetangganya, India dan Afganistan?

Pakar hubungan Iran-Pakistan dan peneliti senior di Atlantic Council, Fatemeh Aman, punya pendapat berbeda. Meskipun peran Pakistan dalam negosiasi perang AS-Iran dan hubungannya yang bermusuhan dengan Kabul serta New Delhi tampak seperti dua hal yang bertentangan, pada kenyataannya itu adalah “dua respons yang berbeda terhadap tekanan konflik yang berbeda pula.”

“Meskipun mediasi dalam ketegangan antara AS dan Iran membuka ruang diplomasi, penanganan situasi di Afganistan lebih berfokus pada stabilitas. Pendekatan ini mencerminkan keterbatasan, bukan standar ganda. Pakistan ingin memperkuat perannya di kawasan, tetapi menghadapi masalah yang tak mudah diselesaikan,” ujarnya kepada DW.

“Situasi ini tidak sekontradiktif itu. Pakistan sedang menghadapi dua realitas yang berbeda. Hubungannya dengan Iran dan AS menyangkut diplomasi dan upaya mempertahankan relevansi dengan risiko yang relatif rendah.

Afganistan, di sisi lain, merupakan persoalan keamanan mendesak yang melibatkan militansi, ketidakstabilan perbatasan, dan tekanan domestik. Jadi, ini bukan kontradiksi, melainkan dua pendekatan yang berbeda, pengaruh di luar negeri dan pengendalian di dalam negeri,” tegas Aman.

Pengamat politik Raza Rumi punya pendapat yang sejalan denhan Aman.

“Keterlibatan Islamabad dalam isu AS-Iran dan ketegangannya dengan Afganistan berlangsung dalam konteks yang berbeda. Diplomasi berisiko rendah, di mana Pakistan dapat berperan sebagai fasilitator AS dengan Iran. Sementara ketegangan dengan Afganistan merupakan tantangan keamanan langsung yang dibentuk oleh militansi dan ketidakstabilan perbatasan,” papar Rumi kepada DW.

Ia menambahkan setiap negara, menyesuaikan kebijakan mereka berdasarkan kondisi geografis, ancaman, dan pengaruh yang dimiliki. Pakistan dapat terlibat secara diplomatik dalam isu AS-Iran tanpa risiko langsung, sementara Afganistan menimbulkan kekhawatiran keamanan aktif yang membutuhkan pendekatan berbeda.

Add

as a preferred

source on Google

Konflik dengan India dan Afganistan

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:

1

2

Baca lagi: Fenomena Dealer Tutup, Merek Jepang Diminta Berbenah Hadapi China

Baca lagi: Patroli Kapal Perang AS di Selat Malaka, Ini Respons Menlu RI

Baca lagi: Turis Asing ke Vietnam Kini Wajib Isi Kartu Kedatangan Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: