
Jakarta, Slaughter Free Indonesia
—
Kementerian Luar Negeri Indonesia menolak segala bentuk ancaman terhadap kapal-kapal niaga di rute perdagangan minyak global
Selat Hormuz
menyusul perang Amerika Serikat-Israel vs
Iran
.
Juru bicara Kemlu RI Vahd Nabyl menekankan betapa penting menjaga selat tetap aman, terbuka, dan bisa dilalui pelayaran internasional sesuai dengan ketentuan dan hukum internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dan dalam hal ini kita juga menolak segala bentuk ancaman terhadap kapal niaga dan menekankan bahwa keselamatan pelaut itu harus menjadi prioritas yang utama,” kata Nabyl dalam konferensi pers di gedung Kemlu, Jakarta, Kamis (15/4).
Lebih lanjut, Nabyl juga mengatakan perkembangan koordinasi pemerintah Indonesia dengan Iran terkait dua kapal Pertamina yang masih tertahan di sekitar Selat Hormuz.
Kedua kapal tersebut Pride dan Gamsunoro, masih berada di Teluk Arab atau Teluk Persia.
Nabyl membeberkan Kementerian Luar Negeri terus berkoordinasi secara intensif dengan seluruh pihak, termasuk Angkatan Bersenjata Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran, untuk menindaklanjuti sinyal positif yang telah disampaikan pemerintah Iran pada pertengahan Maret lalu, khususnya bagi kapal Pertamina.
“Kita akan terus memantau dan memastikan kesiapan teknis, termasuk kesiapan kru, asuransi, dan sebagainya agar kedua kapal tersebut tetap melintas dengan lancar,” kata dia.
Nabyl juga mengatakan proses perizinan ini masih terus berjalan. Kemlu, Kedutaan Besar RI di Teheran, dan Pertamania, lanjut dia, terus berkoordinasi erat.
“Kalau ditanya negosiasinya ada progres, yaitu proses perizinan masih terus berjalan,” ungkap dia.
Selat Hormuz menjadi perhatian dunia usai AS dan Israel menggempur Iran habis-habisan. Teheran lalu membalas dengan meluncurkan serangan ke Negeri Zionis dan aset militer AS di negara-negara Teluk.
Iran juga menutup Selat Hormuz untuk menekan AS dan Israel. Namun, situasi kian rumit saat AS juga mengumumkan ikut memblokade kapal-kapal Iran dan yang berafiliasi dengan mereka usai perundingan damai di Pakistan gagal.
(isa/bac)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Slaughter Free]
Baca lagi: Patuhi PP Tunas, TikTok Nonaktifkan Hampir 1 Juta Akun Anak
Baca lagi: Pramono Terjun Langsung Musnahkan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Besok
Baca lagi: Jangan Lagi Tandai Koper Kamu dengan Label Nama, Bisa Bahaya


