
Jakarta, Slaughter Free Indonesia
—
Utusan
Rusia
untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, mewanti-wanti
Amerika Serikat
jika ingin melihat progress negosiasi dengan
Iran
.
Ulyanov menyebut pemerintahan AS di bawah Donald Trump harus berhenti mengancam Iran.
“AS terbiasa melakukan negosiasi dari posisi yang kuat, mengancam akan menggunakan kekuatan militer atau memperketat sanksi. Jelas bahwa selama ini tidak berhasil dengan Iran,” kata dia, dikutip
Al Jazeera
, Senin (27/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Cara terbaik bagi AS dalam situasi saat ini adalah dengan meninggalkan semua unsur dari posisinya yang tampak seperti #pemerasan, #ultimatum, dan #tenggat waktu,” imbuh dia.
AS dan Iran seharusnya menggelar negosiasi putaran kedua pekan lalu sebelum masa gencatan senjata pertama habis. Gencatan dua pekan itu berlangsung pada 7 hingga 22 April.
Setelah masa gencatan habis, atas permintaan Pakistan selaku mediator, AS mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa memberi tahu berapa lama atau kapan dimulai.
Delegasi AS beberapa kali nyaris berangkat ke Pakistan. Namun, mereka akhirnya batal terbang ke negara Asia ini.
Iran juga dengan tegas menolak negosiasi yang berlangsung di bawah tekanan atau ancaman. Menurut mereka, pihak yang terlibat harus bicara setara dan merasa aman.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berkunjung ke tiga negara sekaligus, Pakistan, Oman dan Rusia.
“Memulai kunjungan tepat waktu ke Islamabad, Muscat, dan Moskow,” kata dia.
Araghchi mengatakan kunjungan itu untuk berkoordinasi erat dengan mitra Iran dan berkonsultasi tentang “perkembangan regional.”
(isa/dna/bac)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Dua Eks PM Israel Bikin Koalisi Baru, Siap Gulingkan Netanyahu
Baca lagi: Keraton Jogja Dukung Jogja Financial Festival, Soroti Peran Anak Muda
Baca lagi: Blokade Selat Hormuz Bikin Ekonomi Dunia Tekor Rp1.000 Triliun

