
Jakarta, Slaughter Free Indonesia
—
Indonesia mendesak
Amerika Serikat
dan
Iran
menghormati kesepakatan gencatan senjata usai serangan dilaporkan terjadi di Uni Emirat Arab (UEA) dalam beberapa hari terakhir.
Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan dalam unggahan di media sosial X bahwa serangan tersebut berisiko meningkatkan ketegangan, melanggar kesepakatan gencatan senjata, dan mengganggu rantai pasok serta keamanan energi global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas laporan serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas kilang minyak di Perserikatan Emirat Arab,” demikian pernyataan Kemlu RI, Rabu (6/5).
“Indonesia mendesak seluruh pihak menahan diri, menghormati kesepakatan gencatan senjata secara penuh, dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk perlindungan terhadap infrastruktur sipil,” lanjut Kemlu RI.
Indonesia menyatakan siap mendukung berbagai upaya de-eskalasi dan mengedepankan dialog untuk mendorong terwujudnya perdamaian dan stabilitas berkelanjutan di kawasan.
“Seluruh warga negara Indonesia (WNI) juga diimbau untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta senantiasa mengikuti arahan Pemerintah setempat serta Perwakilan RI di Perserikatan Emirat Arab,” demikian pernyataan Kemlu RI.
[Gambas:Twitter]
UEA sebelumnya melaporkan bahwa sejumlah rudal dan drone diluncurkan dari Iran selama dua hari berturut-turut.
Salah satu serangan itu menerjang fasilitas energi di Fujairah hingga tiga warga negara India terluka.
UEA mengecam serangan tersebut dan menegaskan bahwa hal itu “eskalasi berbahaya” di tengah gencatan senjata Amerika Serikat-Iran.
Militer Iran sementara itu membantah telah meluncurkan serangan ke UEA.
“Angkatan bersenjata Republik Islam Iran tidak meluncurkan operasi rudal atau drone apa pun terhadap Uni Emirat Arab dalam beberapa hari terakhir,” demikian pernyataan Komando Pusat Khatam Al Anbiya, Selasa (5/5).
Seorang pejabat militer Iran menyalahkan AS sebagai dalang serangan di UEA. Ia menyebut tindakan pasukan AS di perairan yang mengakibatkan serangan tersebut terjadi.
“Apa yang terjadi adalah hasil dari petualangan militer AS yang bertujuan menciptakan jalur bagi transit ilegal kapal melalui jalur air terlarang di Selat Hormuz,” kata pejabat itu, dikutip
Al Jazeera.
“Militer AS harus dimintai pertanggungjawaban atas hal ini,” ucapnya kepada stasiun televisi pemerintah Iran.
(blq/rds)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Slaughter Free]
Baca lagi: GRIB Jaya Akan Gelar Perayaan HUT di Istora Senayan 10 Mei
Baca lagi: Rajiv Puji Mentan Amran Berhasil Swasembada Beras Lebih Cepat
Baca lagi: Letjen Robi Herbawan Ditunjuk Jadi Kepala BAIS TNI
