
Jakarta, Slaughter Free Indonesia
—
Presiden Amerika Serikat
Donald Trump
menyatakan negaranya berpotensi mengambil alih
minyak Iran
seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial pada Jumat (3/4). Dalam postingan itu, Trump mengklaim AS dapat dengan mudah membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dengan sedikit waktu lagi, kita bisa dengan mudah membuka Hormuz, mengambil minyak, dan menjadikannya sumber keuntungan. Itu akan menjadi ‘sumber keuntungan’ bagi dunia???,” tulis Trump dikutip dari
Al Jazeera
, Jumat (3/4).
Ia kemudian kembali menegaskan gagasan tersebut dalam unggahan lanjutan. “Pertahankan minyaknya, bagaimana?” ujar dia.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengungkapkan opsi serupa dalam pernyataan terpisah.
“Kita bisa saja mengambil minyak mereka. Tapi saya tidak yakin masyarakat kita punya kesabaran untuk itu,” kata Trump.
“Jika kita tetap di sana, saya lebih memilih mengambil minyaknya. Kita bisa melakukannya dengan mudah. Tapi banyak orang ingin perang ini segera berakhir,” tambahnya.
Selat Hormuz sendiri hingga kini masih dibatasi oleh Iran sejak pecahnya konflik dengan AS dan Israel. Jalur ini merupakan salah satu rute vital perdagangan energi global karena dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia.
Meski demikian, militer AS sebelumnya menyatakan belum siap untuk mengawal kapal-kapal tanker di kawasan tersebut, mengingat risiko tinggi serangan dari Iran di perairan sempit itu.
Pernyataan Trump dinilai menandai eskalasi retorika, terutama terkait kemungkinan penguasaan sumber daya energi negara lain. Dalam hukum internasional, sumber daya alam seperti minyak berada di bawah kedaulatan negara masing-masing, sebagaimana diatur dalam resolusi Majelis Umum PBB tahun 1962.
Di sisi lain, Iran masih mempertahankan kendali atas wilayah dan sumber daya energinya meski menghadapi serangan berkelanjutan dari AS dan Israel. Hingga kini, tidak ada indikasi kehadiran militer AS secara langsung di wilayah darat Iran.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan itu juga belum menunjukkan tanda mereda. Iran masih melancarkan serangan balasan, termasuk menggunakan rudal dan drone, serta tetap membatasi akses di Selat Hormuz.
Pemerintah Iran turut mengecam keras serangan terhadap infrastruktur sipil. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut aksi tersebut menyerupai taktik kelompok teroris.
“Aksi teror gaya ISIS ini, bersama serangan terhadap infrastruktur vital Iran, menunjukkan satu hal: tujuan mereka adalah menghancurkan Iran,” ujarnya.
(lau/dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video Slaughter Free]
Baca lagi: Deret Pasukan Elite yang Dimiliki Tentara Indonesia
Baca lagi: Wastra Indonesia Tampil Perdana di Pameran Korea Selatan
Baca lagi: Tiga TNI Jadi Korban Luka Penyerangan Pasukan UNIFIL di Lebanon



